
PONOROGO – Pecinta kuliner tradisional kini memiliki destinasi baru yang layak dicoba di Ponorogo. Warung makan Ayam Panggang Sragi Ndadhapan hadir dengan mengusung konsep heritage, memadukan cita rasa klasik ayam panggang dengan suasana pedesaan yang asri dan menenangkan.
Terletak di belakang Balai Desa Sragi, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, warung ini baru dibuka sepekan terakhir, namun langsung ramai dikunjungi warga. Konsepnya memanfaatkan rumah kuno bergaya tempo dulu dengan halaman luas, pepohonan rindang, dan area makan di gazebo atau bawah pohon – menciptakan nuansa makan layaknya di rumah nenek di desa.
Dipanggang Dadakan, Aroma Lebih Sangit dan Medok
Keunikan utama dari warung ini adalah teknik memasaknya yang masih tradisional. Ayam kampung segar dipanggang menggunakan tungku kayu bakar, menghasilkan aroma sangit yang khas dan cita rasa yang lebih medok. Tak ada sistem pre-cook – semua ayam dipanggang secara dadakan agar tetap hangat dan segar saat disajikan.
Tak hanya ayam panggang, menu andalan lainnya adalah Ayam Garang Asem Bumbung, yang disajikan dalam bambu dan menawarkan sensasi rasa segar, asam-pedas, dengan aroma bambu yang khas.
Salah satu pengunjung, Mujiatin, menyebut pengalaman makan di warung ini sangat memuaskan.
“Rasanya enak, ada sangit-sangitnya karena pakai tungku. Suasananya juga bagus, recommended banget. Dekat dengan kota lagi,” ujarnya (1/2).
Dari Dapur Selametan ke Bisnis Kuliner Populer
Pemilik warung, Sujarno, mengatakan bahwa awalnya ayam panggang buatannya hanya dipesan untuk hajatan dan selametan warga. Namun, karena tingginya permintaan dan respons positif, ia memutuskan membuka warung secara umum.
“Alhamdulillah, kalau hari biasa bisa menjual sekitar 500 ekor ayam kampung. Hari besar atau liburan bisa tembus 1.000 ekor,” ungkap Sujarno (1/2).
Dengan harga mulai dari Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per ekor, Ayam Panggang Sragi Ndadhapan menjadi pilihan ideal untuk keluarga maupun wisatawan yang ingin menikmati masakan khas Jawa dengan suasana ndeso yang autentik.